JANGAN TERLALU BAIK SAMPAI LUPA MEMBELA DIRI SENDIRI
Oleh: Ruddy Minargo
Ada orang yang begitu mudah mengatakan “iya”.
Ketika dimintai bantuan, dia datang.
Ketika orang lain membutuhkan, dia berusaha ada.
Ketika disakiti, dia mencoba memaafkan.
Ketika dikecewakan, dia masih memberikan kesempatan.
Orang seperti ini sering disebut orang baik.
Dan memang, menjadi orang baik adalah sesuatu yang indah.
Tetapi ada satu persoalan yang sering tidak kita sadari.
Kadang, orang yang terlalu terbiasa menjadi baik justru lupa menjaga dirinya sendiri.
Dia takut mengecewakan orang lain.
Takut dianggap egois.
Takut dianggap berubah.
Takut ketika mengatakan “tidak”, orang lain akan menjauh.
Akhirnya, dia terus memberi.
Terus memahami.
Terus memaafkan.
Sampai suatu hari dia menyadari bahwa selama ini dia begitu sibuk menjaga perasaan orang lain…
sampai lupa menjaga perasaannya sendiri.
Menjadi baik bukan berarti harus selalu berkata “iya”
Ada kesalahpahaman yang cukup sering terjadi tentang kebaikan.
Seolah-olah orang baik adalah orang yang selalu membantu.
Selalu mengalah.
Selalu memaafkan.
Selalu tersedia ketika orang lain membutuhkan.
Padahal tidak demikian.
Orang baik juga boleh berkata tidak.
Kamu boleh menolak permintaan yang memang tidak sanggup kamu lakukan.
Kamu boleh mengatakan bahwa kamu sedang lelah.
Kamu boleh meminta waktu untuk diri sendiri.
Kamu boleh tidak setuju.
Dan kamu boleh menjauh dari hubungan yang terus-menerus membuatmu terluka.
Semua itu tidak otomatis membuatmu menjadi orang jahat.
Karena kebaikan tanpa batas bukan lagi sekadar kebaikan.
Dalam kondisi tertentu, kebaikan yang tidak memiliki batas justru dapat membuat orang lain merasa bahwa mereka bebas melakukan apa saja kepada kita.
Ketika kebaikan mulai dimanfaatkan
Ada perbedaan antara membantu dan dimanfaatkan.
Ketika kamu membantu seseorang karena ingin membantu, itu kebaikan.
Tetapi ketika seseorang mulai menganggap bantuanmu sebagai kewajiban, situasinya berubah.
Awalnya dia meminta bantuan.
Kemudian menjadi kebiasaan.
Lalu ketika suatu hari kamu tidak bisa membantu, justru kamu yang dianggap salah.
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
“Apakah aku sedang berbuat baik, atau sebenarnya aku sedang membiarkan diriku diperlakukan seenaknya?”
Pertanyaan itu penting.
Karena terkadang masalahnya bukan pada orang lain yang meminta terlalu banyak.
Masalahnya adalah kita tidak pernah menunjukkan batas.
Mengatakan “tidak” bukan berarti jahat
Ada kalimat sederhana yang bagi sebagian orang terasa sangat sulit untuk diucapkan:
“Maaf, saya tidak bisa.”
Hanya beberapa kata.
Tetapi bagi seseorang yang terbiasa menyenangkan orang lain, kalimat itu bisa terasa sangat berat.
Dia mulai memikirkan:
"Nanti dia kecewa bagaimana?"
"Nanti dia marah bagaimana?"
"Nanti dia menganggap aku berubah bagaimana?"
Padahal kita tidak mungkin membuat semua orang selalu senang.
Jika setiap keputusan dalam hidup kita dibuat hanya untuk menghindari kekecewaan orang lain, maka perlahan kita akan kehilangan kemampuan untuk menentukan apa yang sebenarnya baik bagi diri kita sendiri.
Kamu tidak bertanggung jawab atas semua perasaan orang lain.
Kamu bertanggung jawab untuk tetap menghargai mereka.
Tetapi kamu juga bertanggung jawab untuk menghargai dirimu sendiri.
Batas bukan tanda bahwa kita berhenti peduli
Memiliki batas bukan berarti kita tidak punya empati.
Justru batas yang sehat membuat hubungan menjadi lebih sehat.
Kamu masih bisa membantu tanpa harus selalu tersedia.
Kamu masih bisa memaafkan tanpa harus kembali memberikan kepercayaan yang sama.
Kamu masih bisa mencintai seseorang tanpa membiarkan dirimu terus disakiti.
Kamu masih bisa memahami keadaan seseorang tanpa harus membenarkan semua perilakunya.
Memahami bukan berarti membiarkan.
Memaafkan bukan berarti memberikan izin untuk mengulangi kesalahan.
Dan mencintai bukan berarti kehilangan harga diri.
Jangan sampai kamu menjadi tempat semua orang berteduh, tetapi tidak pernah punya tempat untuk dirimu sendiri
Bayangkan seseorang berdiri di tengah hujan sambil memegang sebuah payung.
Dia mengangkat payung itu tinggi-tinggi agar orang-orang di sekitarnya tidak kehujanan.
Satu orang berlindung.
Kemudian orang lain datang.
Lalu yang lain lagi.
Semua mendapatkan tempat di bawah payung.
Tetapi dia sendiri?
Tetap kehujanan.
Metafora sederhana itu sebenarnya menggambarkan banyak kehidupan manusia.
Kita sibuk menjadi tempat orang lain bersandar.
Menjadi tempat curhat.
Menjadi orang yang selalu bisa diandalkan.
Menjadi orang yang selalu mengatakan, “Tidak apa-apa.”
Sementara ketika kita sendiri membutuhkan tempat untuk bersandar…
kita tidak tahu harus pergi ke mana.
Kamu juga berhak mengatakan “cukup”
Ada kata yang terkadang lebih sulit diucapkan daripada “tidak”.
Yaitu:
“Cukup.”
Cukup berarti aku sudah mencoba.
Cukup berarti aku sudah memberikan kesempatan.
Cukup berarti aku sudah memahami.
Cukup berarti aku tidak ingin terus berada dalam keadaan yang sama.
Mengatakan cukup bukan berarti kita membenci seseorang.
Terkadang itu hanya berarti kita akhirnya menyadari bahwa diri kita juga membutuhkan perlindungan.
Tidak semua hubungan harus dipertahankan dengan mengorbankan diri sendiri.
Tidak semua orang harus diberikan kesempatan berkali-kali.
Dan tidak semua luka harus kita terima hanya karena kita ingin tetap disebut orang baik.
Jangan takut berubah menjadi “jahat” hanya karena mulai punya batas
Mungkin ada orang yang akan mengatakan:
"Kamu sekarang berubah."
Mungkin memang benar.
Tetapi berubah tidak selalu berarti menjadi buruk.
Mungkin dulu kamu terlalu takut mengatakan tidak.
Sekarang kamu belajar mengatakannya.
Dulu kamu selalu mengalah.
Sekarang kamu belajar mempertimbangkan dirimu sendiri.
Dulu kamu membiarkan banyak hal berlalu.
Sekarang kamu mulai memahami bahwa ada hal-hal yang tidak boleh terus dibiarkan.
Itu bukan kehilangan kebaikan.
Itu adalah belajar menjadi lebih dewasa.
Tetap baik, tetapi jangan kehilangan dirimu sendiri
Kita tidak perlu berubah menjadi keras hanya karena pernah dimanfaatkan.
Tidak perlu membalas orang yang menyakiti kita.
Tidak perlu menjadi dingin hanya karena pernah kecewa.
Tetaplah menjadi orang baik.
Tetapi kali ini, jadilah orang baik yang juga tahu batas.
Bantu orang lain ketika kamu mampu.
Maafkan ketika memang sudah waktunya memaafkan.
Berikan kesempatan ketika memang masih layak diberikan.
Tetapi ketika sesuatu mulai menghancurkan dirimu…
kamu berhak mundur.
Ketika seseorang terus melewati batasmu…
kamu berhak berkata tidak.
Ketika sebuah hubungan hanya membuatmu kehilangan dirimu sendiri…
kamu berhak memilih pergi.
Pada akhirnya, kebaikan juga harus dimulai dari diri sendiri
Kita sering diajarkan untuk menyayangi orang lain.
Untuk membantu.
Untuk berbagi.
Untuk memaafkan.
Tetapi kita juga perlu belajar satu hal yang tidak kalah penting:
menyayangi diri sendiri.
Bukan egois.
Bukan berarti hanya memikirkan diri sendiri.
Tetapi memahami bahwa dirimu juga manusia.
Kamu bisa lelah.
Kamu bisa kecewa.
Kamu bisa terluka.
Dan kamu juga memiliki hak untuk mengatakan:
“Aku tidak sanggup.”
“Aku tidak mau.”
“Aku tidak nyaman.”
“Tolong hormati batasanku.”
Itu bukan bentuk kebencian.
Itu adalah bentuk penghargaan terhadap diri sendiri.
“Jangan sampai kebaikanmu menjadi alasan orang lain merasa berhak menyakitimu.”
Tetaplah baik.
Tetapi jangan terlalu baik sampai lupa bahwa dirimu juga layak mendapatkan kebaikan.
Boleh membantu orang lain.
Tetapi jangan sampai dirimu sendiri yang akhirnya membutuhkan pertolongan.
Boleh memahami orang lain.
Tetapi jangan sampai semua orang kamu pahami sementara tidak ada seorang pun yang memahami dirimu.
Boleh memaafkan.
Tetapi jangan jadikan maaf sebagai tiket bagi seseorang untuk mengulangi kesalahan yang sama.
Karena pada akhirnya…
menjaga diri bukan berarti berhenti menjadi baik.
Justru terkadang, menjaga diri adalah bentuk kebaikan pertama yang harus kita berikan kepada diri sendiri.
Ruddy Minargo
Tentang manusia, kehidupan, batas, dan keberanian untuk tetap menjadi baik tanpa kehilangan diri sendiri.
Social Plugin