Waktu Terbaik Membeli Properti Adalah Kemarin, Waktu Terbaik Kedua Adalah Hari Ini
Dalam dunia investasi, ada sebuah ungkapan klasik yang sering dikutip oleh para pakar properti:
“Waktu terbaik untuk membeli properti adalah kemarin, waktu terbaik kedua adalah hari ini.”
Kalimat sederhana ini menyimpan makna yang dalam — tentang peluang, waktu, dan keputusan finansial yang bijak.
Banyak orang menyesal karena dulu sempat menunda membeli properti dengan alasan “harga masih bisa turun” atau “nanti saja kalau sudah cukup modal.” Namun, sejarah membuktikan bahwa harga properti jarang sekali bergerak mundur. Justru, nilainya terus naik seiring waktu, mengikuti perkembangan wilayah, infrastruktur, dan permintaan pasar yang tak pernah berhenti.
Artikel ini akan mengupas makna dari kalimat tersebut secara mendalam — mengapa menunda membeli properti sering kali berarti kehilangan peluang emas, bagaimana memahami waktu yang tepat untuk investasi, serta langkah cerdas agar pembelian properti hari ini bisa menjadi keputusan terbaik untuk masa depan.
1. Makna Filosofis di Balik Kalimat “Kemarin dan Hari Ini”
Ungkapan ini bukan sekadar slogan pemasaran, melainkan cerminan realitas pasar properti.
“Kemarin” menggambarkan waktu yang telah berlalu — saat harga properti masih lebih rendah, saat peluang investasi masih terbuka lebar, dan saat banyak orang ragu untuk bertindak. Sementara “hari ini” menandakan kesempatan yang masih ada di depan mata, meskipun mungkin sudah tidak seideal dulu.
Dengan kata lain, kalimat ini mengajak kita untuk berhenti menyesali masa lalu dan mulai bertindak sekarang.
Karena menunggu “waktu yang paling sempurna” sering kali membuat kita kehilangan waktu terbaik berikutnya.
Properti bukanlah investasi yang bisa dikejar dalam semalam. Nilainya tumbuh seiring waktu, dan semakin lama kita menunda, semakin besar biaya yang harus dibayar di masa depan — baik dalam bentuk harga yang lebih tinggi, cicilan yang lebih besar, maupun lokasi yang semakin jauh dari pusat kota.
2. Fakta: Harga Properti Tidak Pernah Berhenti Naik
Mari kita lihat realitanya. Dalam dua dekade terakhir, hampir semua kota besar di Indonesia menunjukkan kenaikan harga properti yang konsisten.
Contohnya, rumah di area Sidoarjo, Surabaya, dan sekitarnya yang pada tahun 2010 masih bisa dibeli dengan harga di bawah Rp300 juta, kini rata-rata sudah di atas Rp700 juta hingga Rp1 miliar, tergantung lokasi dan tipe bangunan.
Faktor pendorong kenaikan harga properti antara lain:
- Keterbatasan lahan. Lahan tidak bertambah, sementara penduduk terus meningkat.
- Perkembangan infrastruktur. Jalan tol, transportasi umum, dan pusat ekonomi baru meningkatkan nilai kawasan.
- Kenaikan biaya material dan tenaga kerja.
- Permintaan yang stabil. Rumah adalah kebutuhan dasar yang tidak bisa digantikan.
Kondisi ini membuktikan satu hal penting: semakin cepat membeli properti, semakin besar keuntungan di masa depan.
Menunda hanya berarti membeli dengan harga yang lebih mahal.
3. Properti Bukan Hanya Soal Tempat Tinggal, Tapi Aset Bernilai Waktu
Banyak orang masih memandang rumah hanya sebagai tempat tinggal. Padahal, di sisi lain, properti adalah aset investasi jangka panjang yang nilainya terus tumbuh. Berbeda dengan kendaraan yang nilainya menyusut setiap tahun, properti justru bertambah nilainya seiring waktu.
Misalnya, seseorang membeli rumah seharga Rp500 juta pada tahun 2018. Lima tahun kemudian, harga pasarnya bisa mencapai Rp850 juta atau lebih, tergantung lokasi dan kondisi bangunan. Artinya, tanpa harus melakukan apa pun, pemilik rumah sudah mendapatkan kenaikan nilai aset sekitar 70% dalam lima tahun.
Inilah yang disebut sebagai “time value of property” — nilai properti meningkat seiring waktu.
Dan itulah sebabnya “kemarin” selalu tampak lebih murah daripada “hari ini”.
4. Mengapa Banyak Orang Menunda Membeli Properti
Ada banyak alasan mengapa seseorang ragu untuk membeli properti, antara lain:
-
Takut salah pilih lokasi.
Banyak calon pembeli terlalu lama menimbang, hingga akhirnya harga sudah naik atau unit yang diinginkan sudah terjual. -
Menunggu harga turun.
Padahal, harga properti jarang sekali turun kecuali di situasi ekonomi ekstrem, dan sekalipun turun, pemulihannya biasanya cepat. -
Belum merasa cukup modal.
Padahal, banyak program KPR (Kredit Pemilikan Rumah) yang bisa membantu pembelian rumah pertama dengan uang muka ringan. -
Fokus pada konsumsi jangka pendek.
Sebagian orang lebih memilih membeli barang konsumtif daripada menanamkan dana di aset jangka panjang seperti rumah.
Masalah utama bukanlah kekurangan kesempatan, tapi keraguan untuk memulai.
Sementara waktu terus berjalan, harga terus bergerak naik, dan kesempatan “kemarin” pun hilang selamanya.
5. Belajar dari Mereka yang Sudah Melangkah Lebih Dulu
Setiap agen properti pasti pernah mendengar kisah klasik ini:
Dulu, seorang pembeli menolak membeli rumah di kawasan yang dianggap jauh dan sepi. Lima tahun kemudian, kawasan itu berkembang pesat, dan harga properti di sana naik tiga kali lipat. Pembeli yang dulu ragu, kini hanya bisa berkata, “Andai dulu saya beli.”
Kisah seperti ini bukan satu dua kali terjadi — hampir setiap kawasan berkembang melalui pola yang sama:
- Awalnya dianggap terlalu jauh.
- Mulai dilirik setelah ada pembangunan infrastruktur.
- Harga mulai naik ketika permintaan meningkat.
- Dan akhirnya, menjadi kawasan favorit dengan harga tinggi.
Pelajaran dari sini jelas: mereka yang berani membeli lebih awal adalah pemenang.
6. Membeli Properti Hari Ini: Keputusan Terbaik Kedua
Jika kamu belum sempat membeli “kemarin”, jangan khawatir.
Hari ini masih merupakan waktu terbaik kedua.
Mengapa? Karena masa depan tetap dimulai dari langkah hari ini.
Harga properti saat ini mungkin terasa tinggi, tapi lihatlah tren jangka panjang: 5–10 tahun ke depan, harga yang kamu anggap “mahal” hari ini akan terlihat murah dibanding harga di masa depan.
Kuncinya adalah:
- Mulailah dari kemampuan yang ada. Tidak harus rumah besar — rumah kecil pun bisa menjadi titik awal.
- Pilih lokasi strategis. Dekat akses jalan, fasilitas umum, atau kawasan yang sedang berkembang.
- Manfaatkan program pembiayaan. Banyak developer dan bank menawarkan DP ringan, cicilan fleksibel, atau bunga tetap.
- Fokus pada niat memiliki aset. Jangan menunggu terlalu lama menimbang harga, karena setiap bulan harga bisa berubah.
7. Properti Sebagai Alat Membangun Masa Depan Finansial
Membeli properti bukan hanya tentang punya rumah sendiri, tapi juga tentang membangun pondasi keuangan yang kuat.
Dengan memiliki aset nyata, kamu:
- Memiliki jaminan nilai di masa depan.
- Bisa memanfaatkan properti untuk disewakan atau dijual kembali.
- Memiliki instrumen investasi yang relatif stabil dibanding saham atau kripto.
Banyak orang sukses memulai dari satu properti kecil — lalu meningkat menjadi beberapa unit rumah, ruko, atau kavling tanah. Semua berawal dari keputusan pertama untuk membeli.
Tidak harus besar, tapi harus dimulai.
8. Pandangan Para Ahli: Waktu Tidak Bisa Diulang
Para analis properti sepakat bahwa menentukan waktu yang “sempurna” untuk membeli properti itu hampir mustahil.
Pasar properti tidak bergerak secara ekstrem seperti saham — ia tumbuh stabil dan konsisten.
Oleh karena itu, faktor waktu yang paling menentukan bukan kapan harga turun, tapi kapan kamu mulai.
Sederhananya:
- Jika kamu membeli hari ini, kamu mulai mencicil aset.
- Jika kamu menunda, kamu tetap mencicil — tapi untuk sewa, bukan kepemilikan.
9. Kesimpulan: Ambil Langkah Hari Ini, Karena Besok Bisa Terlambat
Ungkapan “Waktu terbaik membeli properti adalah kemarin, waktu terbaik kedua adalah hari ini” adalah pengingat bahwa menunda hanya membuat kita kehilangan momentum.
Jangan tunggu harga turun, karena jarang sekali terjadi.
Jangan tunggu punya uang banyak, karena nilai uang justru tergerus inflasi.
Mulailah sekarang — dari rumah sederhana, dari lokasi berkembang, dari langkah kecil yang realistis.
Sama seperti pepatah bijak lainnya, kesempatan tidak datang dua kali dalam bentuk yang sama.
Properti yang kamu tunda beli hari ini, mungkin besok sudah dibeli orang lain — dan harganya naik saat kamu baru siap.
Penutup
Investasi properti bukan hanya soal keuntungan materi, tapi juga tentang visi dan keberanian untuk memulai lebih awal.
Banyak orang menyesal karena dulu terlalu lama berpikir. Tapi tidak ada yang menyesal karena memutuskan membeli lebih cepat.
Jika kamu sedang mempertimbangkan untuk membeli rumah, tanah, atau unit properti lainnya — ingatlah kalimat ini:
“Waktu terbaik membeli properti adalah kemarin. Waktu terbaik kedua adalah hari ini.”
Mulailah hari ini, karena masa depan yang stabil dimulai dari keputusan bijak yang kamu ambil sekarang.
Ambil Hpmu hubungi
Bargo Agen Properti Anda
0817315570
Social Plugin